Senin, 08 Juni 2015
SUDUT BAHASA : PESOHOR ATAU PENYOHOR (?)
Oleh Ki Pandhu Arya Dinata
pesuruh orang yang disuruh
penyuruh orang yang menyuruh
pesohor orang yang dibuat tersohor
penyohor orang yang membuat orang atau sesuatu tersohor
perusuh orang yang berbuat rusuh
perusuh orang yang dibuat menjadi rusuh
perajin orang yang berbuat rajin; orang yang bekerja dengan rajin
pelari orang yang suka berlari
pelari orang yang melarikan diri atau melarikan (orang atau sesuatu)
pesakit
penyakit
peserta orang yang disertakan, orang yang (ikut) serta
penyerta
pesepak
penyepak
petinju orang yang hobinya/pekerjaannya bertinju
peninju orang yang hobinya/kesukaannya meninju
pegulat orang yang hobinya/pekerjaannya bergulat
penggulat orang yang hobinya/kesukaannya menggulat
peubah
pengubah
pejabat
penjabat
pejalan
penjalan
petugas
penugas
petaruh
penaruh
petarung
penarung
petangkal
penangkal alat atau orang yang bertugas untuk menangkal
petunjuk alat yang dipergunakan untuk menunjuk(kan) sesuatu
penunjuk alat atau orang yang bertugas menunjuk
sohor berasal dari syahur/asyhur(?) masyhur
tersohor termasyhur
pesohor orang yang disohorkan/dimasyhurkan
penyohor orang yang hobinya/tugasnya/pekerjaannya menyohorkan sesuatu/orang
NAMA-NAMA TEMPAT DI AMERIKA YANG BERASAL DARI TIMUR TENGAH/BAHASA ARAB
Albany -
Andalusia -
Attalla -
Lebanon -
Salem - Salaam
Karibia - Qariiban
Jamaika -
Cuba - Quba
Havana - La-Habana
Grenada
Barbados -
Bahama -
Nassau -
Al-Cantara -
Bahia -
Appalachian Afala-che
Absarooka - Abshaaruka
Toledo -
Minggu, 07 Juni 2015
MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA, POKOK BAHASAN : MEMAHAMI DENAH DAN PETA
Pokok Bahasan : Memahami Denah dan Peta merupakan salah satu pokok bahasan yang perlu disampaikan/disajikan oleh Guru Bahasa Indonesia. Hal ini mengarahkan siswa agar mereka benar-benar memahami orientasi tempat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada undangan yang disertai dengan denah. Hal ini akan memudahkan tamu undangan untuk menghadiri resepsi yang diselenggarakan oleh tuan rumah. Denah yang dipampangkan dalam bentuk sederhana. Artinya hanya jalan-jalan tertentu yang dicantumkan. Hal ini (diharapkan) sudah cukup jelas dapat dibaca dan dipahami.
Hal penting sebagai prinsip dalam membuat denah dan peta ialah:
--> Atas = Utara; Jauh/Terjauh
--> Bawah = Selatan; Dekat/Terdekat
Dalam menyusun denah kelas juga harus diperhatikan prinsip seperti tersebut di atas.
Nama-nama siswa/foto-foto siswa yang duduk di bangku dekat/terdekat dipampangkan di bagian bawah. Kemudian berturut-turut sampai yang jauh/terjauh. Artinya nama-nama siswa/foto-foto siswa yang duduk di bangku jauh/terjauh dipampangkan di bagian atas daftar peserta ujian ....
Tanpa memperhatikan hal tersebut di atas, daftar peserta ujian .... akan tidak bermanfaat. Daftar peserta ujian .... semacam ini akan membuat bingung pengawas yang hadir di ruang ujian yang bersangkutan.
Bagaimana halnya dengan rambu-rambu?
Seharusnya rambu-rambu dibuat dengan mematuhi aturan tersebut di atas.
Jika dari arah Caruban mau melewati Jalan Raya Caruban - Ngawi tentu rambu-rambu yang terpampang tertulis:
SOLO
SRAGEN
NGAWI
PADAS
KARANGJATI
Artinya SOLO arah dan jarak terjauh, sedangkan KARANGJATI arah dan jarak terdekat.
Demikian sekilas pembelajaran dengan pokok bahasan : MEMAHAMI DENAH DAN PETA (perlu disunting lebih lanjut)
Senin, 04 Mei 2015
DI MANA? DI SITU! Oleh Ki Pandhu Arya Dinata
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Di mana tanah dipijak, di situ jalan dilalui.
Di mana jalan dilalui, di situ banyak lalu lalang.
Di mana ada lalu lalang, di situ ada keramaian.
Di mana ada keramaian, di situ ada yang datang ada yang pergi.
Di mana ada yang datang dan ada yang pergi, di situ ada tegur sapa.
Di mana ada tegur sapa, di situ ada tanya jawab.
Di mana ada tanya jawab, di situ masalah diselesaikan.
Di mana masalah diselesaikan, di situ satu sengketa teratasi.
Di mana satu sengketa teratasi, di situ muncul masalah lagi.
Di mana ada masalah lagi, di situ banyak dibicarakan.
Di mana banyak dibicarakan, di situ ada sekumpulan orang punya kepentingan.
Di mana ada sekumpulan orang punya kepentingan, di situ masing-masing berebut pengaruh.
Di mana masing-masing berebut pengaruh, di situ ada pemaksaan kehendak.
Di mana ada pemaksaan kehendak, di situ masing-masing tidak mau mengalah.
Di mana masing-masing tidak mau mengalah, di situ masalah tidak pernah diselesaikan.
Di mana masalah tidak pernah diselesaikan, di situ biasanya berakhir tanpa penyelesaian.
Di mana?
Di mana-mana!
Minggu, 26 April 2015
TEMBANG JAWABAN TERMINAL KARTANAGARA Karipta dening Ki Pandhu Arya Dinata
aja gampang sujana marang sapadha-padha
uga marang aku kang lagi lunga
wingi kuwi aku pamit menyang watualang
saperlu nekani undangan reuni para kanca
neng terminal kartanagara
aku ketemu kanca lawasku
nalika sekolah neng esempe telu watualang
dheweke ndhisik asal saka dumplengan
aja gampang sujana marang aku kang lagi lunga
ora patiya adoh tur paling suwe amung sedina
wingi kuwi aku ketemu kanca-kanca, kayata sukiran
radi, lasmidi, leni, suprihatin, lan gaguk budiawan
meh kabeh kang nekani reuni
neng rumah makan kuwi pada carita
sakabehing pengalaman neng manca kutha
kaseksen dening guru-guru kang wus tuwa
ya neng dalan anyar kala semana
ana pasangan kancaku kang lagi foto pranikah
numpak dokar andhong
dibacutke kereta mini, lan odhong-odhong
ya neng prapatan terminal kartanagara
pak polisi sempat ngatur lalu lintas
supaya dadi aman, lancar lan waspadha
banjur kowe dhewe neng ngendi nalika semana
03 Maret 2015 dilanjutkan 26 April 2015
MELURUSKAN MAKNA GOLEK PESUGIHAN Oleh Ki Pandhu Arya Dinata
Di Balik Makna Golek pesugihan
Kita sering mendengar kata ‘golek pesugihan’. Kata ‘golek’ berarti mencari. Sedangkan kata ‘pesugihan’ berasal dari kata ‘sugih’ yang mendapat imbuhan ‘pe-...-an’. Imbuhan ‘pe-...-an’ menunjukkan arti proses menjadi ... (tersebut pada kata dasarnya). Jadi ‘pesugihan’ ialah proses menjadi sugih atau kaya.
Yang namanya proses berarti ada tahap-tahap yang harus ditempuh. Biasanya terdiri atas tiga tahap yaitu ‘purwa’ atau awal, ‘madya’ atau tengah, dan ‘wusana’ atau akhir. Proses tidak mungkin dilaksanakan cukup satu tahap saja. Misalnya purwa. Atau madya. Atau wusana saja. Tidak mungkin. Sering terdengar orang berujar,”Lebih cepat, lebih baik.” Tidak jelas maksud ungkapan yang diujarkan itu. Proses tidak bisa dipercepat. Bahkan sering terjadi percepatan proses akan berujung kepada hasil yang mengecewakan bahkan menemui kegagalan.
Sering Dianggap Berkonotasi Negatif
Kata ‘golek pesugihan’ sering dianggap berkonotasi negatif. Misalnya Si Atra pergi ke Gunung Gnugug. Ia ‘golek pesugihan’. Atau Si Higus pergi menjumpai mBah Osiram. Ia ‘golek pesugihan’. Dari informasi ini, kita bisa memperoleh 2 macam pandangan. Pertama, bila Si Atra atau Si Higus memang berniat untuk pergi ke sana dengan harapan, pulangnya mereka memperoleh keberuntungan, maka mereka terbukti mengandalkan kekuatan magis dari Gunung Gnugug atau mBah Osiram. Kedua, sayangnya kita tidak pernah tahu situasi lubuk yang paling dalam dari Si Atra atau Si Higus. Bahwa mereka berdua hanya berkeinginan pergi ke sana sekadar melakukan refreshing karena tiap hari mereka disibukkan bisnis yang tak pernah berhenti. Sekali waktu mereka pergi ke tempat pariwisata. Sekali waktu mereka minta nasihat kepada orang-orang yang pantas memberi nasihat.
Tetapi mengapa mereka pergi ke tempat tersebut? Mengapa tidak pergi ke tempat wisata, misalnya area wisata air dengan water boom-nya. Atau pergi ke pantai, ke kebun binatang? Mengapa juga mereka tidak berusaha menjumpai entrepreneur atau wirausaha? Mengapa mereka tidak berusaha menjumpai tokoh agama yang benar-benar bisa diandalkan memberikan nasihat lengkap, yang menyangkut qadha dan qadar Allah, termasuk bagaimana menghadapi kegagalan.
Konotasi Positif Golek pesugihan
Marilah kita menempatkan makna ‘golek pesugihan’ pada kedudukan yang sebenarnya (konotasi positif). Kata ‘golek pesugihan’ kita maknai sebagai mencari kehidupan yang sukses dengan berusaha semaksimal mungkin.
Sering orang terperangah terhadap orang lain yang begitu mudahnya menggapai kesuksesan. Tetapi lupa bahwa orang yang sukses itu tidak langsung berada di tangga kesuksesan. Ia merangkak dari bawah. Mengandalkan warisan? Betapapun besar warisan, apabila tidak dikelola dengan baik, akhirnya habis juga. Warisan berupa rumah dan kendaraan yang banyak, apabila tidak dimanfaatkan, akhirnya terbengkelai juga. Tentu saja tidak cukup hanya mengandalkan warisan. Warisan boleh melimpah, tetapi upaya mengelola warisan itu yang menjadi tuntutan dan tantangan tersendiri.
Maka “golek pesugihan” kita maknai secara positif bahwa tiap-tiap orang berkompetensi untuk mencari kekayaan sesuai dengan kemampuannya. Tidak perlulah sedu sedan itu atas kekayaan orang lain, atas kesuksesan orang lain. Tidak perlulah kita melihat pelangi di atas kepalanya. Bahkan kalau ditelusuri sebenarnya mereka yang punya pelangi di atas kepalanya itu, sedang memandang di atas kepala kita berpelangi. Orang Jawa ternyata bijak juga dengan menggunakan istilah “sawang sinawang”. Itu saja.
Sabtu, 11 April 2015
SEKEDAR USUL : JAMU BERAS ASEM DAN KUNIR KENCUR
Anda tentu pernah minum jamu beras kencur. Rasanya khas jamu, terasa kencurnya. Anda pun tentu pernah minum jamu kunir asem. Kunirnya terasa, demikian pula asemnya. Tetapi, terbayangkah Anda, suatu ketika minum jamu beras asem atau jamu kunir kencur? Mana ada? Ada kalau diadakan. Jika hal ini kita kemukakan atau kita usulkan kepada penjual jamu, belum tentu usulan kita dituruti. Kenapa? Karena mereka lebih cenderung pada kebiasaan lama: membuat jamu beras kencur dan jamu kunir asem. Usulan kita tentu tidak bakal diterima. Kalaupun ditanggapi, mereka hanya berujar: kalau tidak laku bagaimana, sampeyan beli semua?
Juga Anda pernah mendengar jamu tape laos? Jamu ini terbuat dari lengkuas yang difermentasi. Lengkuas fermentasi kemudian diparut dan diperas, diberi gula, sedikit garam, dan asam. Jadilah jamu tape laos. Anda ingin mencoba? Silakan mencoba.
Tapi kalau dicoba hal lain, misalnya jamu tape kencur, jamu tape beras, atau jamu laos kencur asem, bagaimana? Paling-paling ada yang nyeletuk,”Ah, sampeyan ini ada-ada saja.”
Di dunia yang penuh dengan inovatif, memang hal-hal yang tidak biasa perlu dicuatkan, sehingga muncul ada-ada saja. Jika tidak berinovatif, tentu akan tertinggal oleh pelaku usaha yang lain yang otaknya berputar-putar untuk menemukan hal-hal yang sama sekali baru.
Langganan:
Postingan (Atom)