Selasa, 09 Juni 2015

SASTRA : TOKOH DAN PERWATAKAN TOKOH OLEH KI PANDHU ARYA DINATA

Pengertian tokoh utama, antagonis, protagonis dan figuran Tokoh utama adalah tokoh yang sering muncul atau banyak dikisahkan dalam cerita. Tokoh utama digambarkan sebagai tokoh yang dinamis sehingga sifat mereka sewaktu-waktu bisa berubah. Tokoh protagonis (pro = setuju, searah, sejalan; gone = sudut; sama tujuan, sama arah, sama jalan) adalah tokoh yang membawakan misi kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai, aman dan sejahtera. Catatan: Ingat gedung The Pentagon (penta = lima, gon = sudut, gedung yang dibangun berbentuk segi lima). Tokoh Protagonis (bahasa Yunani: protagonistes) adalah tokoh utama dalam buku, film, permainan video, maupun teater. Dalam literatur, protagonis adalah tokoh yang melawan antagonis. Protagonis sering merupakan seorang pemeran utama, kadang-kadang seorang jagoan atau hal lainnya yang merupakan konflik dengan antagonis. Tokoh Protagonis biasanya baik dan tidak jahat. Dalam beberapa cerita, tidak semua protagonis menjadi jagoan atau baik. Adakalanya protagonis bertingkah seperti antagonis yang kemudian dikenal sebagai anti-hero (anti-heroine untuk wanita). Protagonis tidak hanya mencakup tokoh utama, tetapi tokoh pendukung yang baik juga dikategorikan protagonis. Tokoh protagonis membawakan perwatakan yang bertentangan dengan antagonis yang menyampaikan nilai-nilai negatif. Tokoh protagonis merupakan tokoh yang membawakan misi kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai, aman, dan sejahtera. Tokoh antagonis (anta, anti = lawan; gone = sudut; berlawanan sudut; berlawanan arah, bertolak belakang) adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif. Tokoh figuran adalah tokoh tambahan yang perannya tidak penting bagi keutuhan tema. Sumber Tautan: http://diansucicahyani.blogspot.com/2013/02/pengertian-tokoh-utama-antagonis.html http://id.wikipedia.org/wiki/Protagonis

PIDATO DALAM ACARA PERPISAHAN SISWA KELAS VI SDN PANGKUR 1

SEBAGAI WAKIL SISWA KELAS VI Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Yth. Bapak Kepala SDN Pangkur 1 Yth. Bapak Ketua Komite SDN Pangkur 1 Yth. Bapak dan Ibu Guru sekalian Adik-adik yang berbahagia Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al-hamdulillaahi rabbi l-‘aalamin. Atas rahmat dah hidayah-Nya kita senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Khususnya, kita sekalian dapat hadir dalam Acara Perpisahan Siswa Kelas VI SDN Pangkur 1 ini. Tidak lupa kita sampaikan shalawat kepada Junjungan Kita Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa-ssalaam yang mengantarkan kita dari Zaman Jahiliyah menuju Zaman yang Terang Benderang ini. Pada Acara Perpisahan Siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2014/2015 ini, izinkan, saya mewakili teman-teman Kelas VI SDN Pangkur 1. Kami menyadari bahwa selama 6 tahun berturut-turut menjadi siswa di SDN Pangkur 1 ini berusaha menyerap ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru sekalian. Sungguh ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru sekalian sangat bermanfaat bagi kami baik sekarang maupun waktu yang akan datang. Untuk itu dengan tulus, kami mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kegiatan belajar mengajar yang Bapak dan Ibu Guru berikan kami menjadi amal shalih dan memperoleh limpahan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allaahumma, amien. Di samping itu, dalam setiap kegiatan belajar mengajar, kadang-kadang atau mungkin sering kami membuat Bapak dan Ibu guru kesal, marah dan kecewa. Kami akui bahwa perilaku kami baik sengaja ataupun tidak sengaja membuat Bapak dan Ibu guru kurang berkenan di hati. Sehubungan dengan hal itu, dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sungguh, kami sangat berharap dengan segala ketulusan hati agar kiranya Bapak dan Ibu sekalian bekenan memberikan maaf pada kami. Selanjutnya kami tujukan kepada Bapak Ibu, Ayah Bunda kami. Dengan ini kami sampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ayah Bunda. Kami menyadari bahwa betapa Ayah Bunda dengan penuh kasih sayang memberikan perhatian kami demi kemajuan belajar kami sehingga lulus SD. Ayah Bunda telah mendidik dan menjaga kami sehingga kami menjadi siswa yang disiplin dan berprestasi. Di samping itu, kami mohon maaf pada Ayah Bunda kami. Tanpa sepengetahuan Ayah Bunda, mungkin kami membuat keonaran di kelas atau di sekolah. Sehingga ada laporan yang datangnya dari sekolah karena mungkin kami nakal dan sebagainya. Sekali lagi, kami mohon maaf. Berikutnya, tujukan kepada adik-adik kelas kami yang tercinta. Selama 6 tahun berturut-turut kita bertemu dan sama-sama belajar di sekolah kita yang tercinta ini. Tentu ada rasa suka maupun duka sering kita rasakan. Semua itu tentu saja tidak akan terlupakan begitu saja dan akan menjadi kenangan selamanya. Tirulah apa yang baik dari kami. Tirulah prestasi yang kami raih. Jangan tiru perilaku yang tidak baik. Ada kesalahan dari kami, dengan ini kami minta maaf kepada adik-adik. Selamat tinggal, Adik-adik. Tetap semangat belajar. Raga boleh berpisah, jiwa kita tetap akan selalu bersama. Sama-sama belajar, sama-sama menuntut ilmu untuk meraih cita-cita. Selanjutnya, kami mohon doa restu kepada Bapak dan Ibu Guru, Ayah dan Bunda, serta adik-adik, sehinggga kami dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kami pun berharap, semoga sekolah kita yang tercinta ini semakin maju dan berjaya di masa mendatang. Allaahumma, amien. Kiranya saya cukupi sekian saja sambutan kami. Ada kekurangan, saya mohon maaf. Terima kasih atas segala perhatian. Billaahi taufiq wal-hidayah, wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Dibuat di : Pangkur Pada tanggal : 04 Mei 2015 Disampaikan pada tanggal : 16 Juni 2015 Oleh: HANIF ARITOGAR AFIANTA

MENGOLAH PERIBAHASA MENJADI JOKE SEGAR OLEH KI PANDHU ARYA DINATA

Peribahasa sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala orang tidak bisa berterus terang, maka ia akan mengemukakannya dengan menggunakan peribahasa. Namun peribahasa yang ada selama ini hanya dipergunakan sebatas apa yang ada saja. Artinya dari dulu peribahasa itu berbunyi demikian. Jarang ada orang yang berani mengolahnya. Misalnya: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, yang maksudnya bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang ke tepian. Haruskah berlaku demikian? Tentu bisa berlaku kebalikannya. Maka peribahasanya akan berbunyi: Berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian, yang maksudnya Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Berikut ini beberapa bentukan peribahasa yang bisa berfungsi untuk menyindir seseorang atau keadaan. Peribahasa 1 Berenang-renang ke hulu ketemu buaya. Berakit-rakit ke tepian ketemu macan. Bersenang-senang dahulu ketemu bahagia. Bersakit-sakit kemudian meningkatkan iman. Peribahasa 2 Kerbau punya susu, sapi punya nama. Meskipun kalian memiliki kerbau perahan. Air susunya melimpah. Kalian tak pernah mengatakan sebagai air susu kerbau (AIK). Kalian akan mengalihkan sebagai air susu sapi (AIS). Kerbau pun tidak pernah merasa tersinggung. Suatu ketika ia sempat berseloroh,”Kok saya jadi kelinci percobaan? Mestinya yang jadi kelinci percobaan itu kambing dulu atau domba dulu!”. Tapi tukang perah pun berkilah,”Tidak bisa. Kita tidak bisa mencari kambing hitamnya. Masalahnya kambing-kambing yang ada di sekitar sini tidak hitam. Juga kita tidak boleh mengadu domba. Masalahnya domba-domba yang ada di sekitar sini tidak mau diadu.” Mendengar tanggapan tukang perah, kerbau pun ngeyel (baru kali ini ada kerbau ngeyel),”Masalahnya, bisa ngga kalian mengusahakan kuda liar, biar kalian bisa memproduksi (air) susu kuda liar atau kalau disingkat ASKL?”. Bukan hanya itu persoalannya, dulu kami sempat gegabah,”Karena nila setitik rusaklah (air) susu sebelanga.” Kerbau pun menanggapi,”Saya yakin kalian tidak gegabah, masalahnya mungkin ada yang menyusup di kandang ayam, misalnya musang berbulu ayam.” “Lalu apa hubungannya dengan nila setitik?” “Siapa tahu musang berbulu ayam itu bukan memburu ayam, tetapi menaruh nila di dalam belanga?’ Peribahasa yang Sesuai Dalam Karangan Penggunaan peribahasa dalam karangan akan memberi impresi positif kepada pemeriksa bahawa anda mempunyai pengetahuan bahasa yang luas termasuk peribahasa. Oleh itu, saya berharap anda menggunakan sekurang-kurangnya lima peribahasa dalam setiap karangan. 24. Besar-besar istana raja, kecil-kecil pondok sendiri – betapa senangnya di rumah besar kepunyaan orang lain, tidaklah sama dengan rumah sendiri biarpun kecil. 25. Besar tidak boleh disangka bapa, kecil tidak boleh disangka anak – kepandaian atau kelebihan terdapat pada semua orang, tidak kira tua atau muda. 26. Biar mati anak, jangan mati adat – adat resam tidak boleh dilanggar. 27. Biar putih tulang, jangan putih mata – lebih baik mati daripada menanggung malu. 28. Buat baik berpada-pada, buat jahat jangan sekali – berbuat baik janganlah berlebih-lebihan tetapi jangan sekali-kali berbuat jahat. 29. Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga – pergaduhan sesama keluarga tidak berpanjangan, akhirnya berbaik-baik semula. 30. Di luar bagai madu, di dalam bagai hempedu – tipu muslihat biasanya dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut dan manis. 31. Di mana ada kemahuan, di situ ada jalan – jika mempunyai cita-cita seseorang akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya. 32. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana tanah dipijak, di situ jalan dilalui. Di mana jalan dilalui, di situ banyak lalu lalang. Di mana ada lalu lalang, di situ ada keramaian. Di mana ada keramaian, di situ ada yang datang ada yang pergi. Di mana ada yang datang dan ada yang pergi, di situ ada tegur sapa. Di mana ada tegur sapa, di situ ada tanya jawab. Di mana ada tanya jawab, di situ masalah diselesaikan. Di mana masalah diselesaikan, di situ satu sengketa teratasi. Di mana satu sengketa teratasi, di situ muncul masalah lagi. Di mana ada masalah lagi, di situ banyak dibicarakan. Di mana banyak dibicarakan, di situ ada sekumpulan orang punya kepentingan. Di mana ada sekumpulan orang punya kepentingan, di situ masing-masing berebut pengaruh. Di mana masing-masing berebut pengaruh, di situ ada pemaksaan kehendak. Di mana ada pemaksaan kehendak, di situ masing-masing tidak mau mengalah. Di mana masing-masing tidak mau mengalah, di situ masalah tidak pernah diselesaikan. Di mana masalah tidak pernah diselesaikan, di situ biasanya berakhir tanpa penyelesaian. Di mana? Di mana-mana! – kita hendaklah mematuhi peraturan tempat yang kita diami 33. Diam-diam ubi berisi, diam-diam penggali berkarat – diam orang yang berilmu itu berfikir sementara diam orang yang bodoh itu sia-sia sahaja. 34. Didengar ada, dipakai tidak – nasihat yang sia-sia. 35. Enggang sama enggang, pipit-sama pipit – bergaul dengan orang yang sama taraf. 36. Gajah mati meninggalkan tulang, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama – jasa dan nama baik seseorang yang mati akan dikenang juga. 37. Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah – pergaduhan antara dua orang besar atau pemerintah, rakyat yang mendapat kesusahan. 38. Genggam bara api biar sampai jadi arang – membuat sesuatu pekerjaan yang susah, hendaklah sabar sehingga mencapai kejayaan. 39. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari – tingkah laku guru akan menjadi ikutan murid. 40. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga – budi baik seseorang tidak akan dilupakan walaupun dia telah mati. 41. Harapkan pagar, pagar makan padi – seseorang yang dipercayai untuk menjaga sesuatu, dia pula yang mengkhianati kita. 42. Hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah – pembahagian yang sama rata. 43. Hati hendak semua jadi – jika ada kemahuan, semua kerja akan jadi. 44. Hendak seribu daya, tak hendak seribu dalih – jika berkehendakkan sesuatu akan berusaha untuk mendapatkannya, tetapi jika tidak mahu membuat sesuatu pekerjaan, berbagai-bagai alasan boleh diberikan. 45. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah – semasa hidup kita mestilah mengikuti adat resam, dan apabila sudah mati terserah pada hukum Tuhan. 46. Hidup sandar-menyandar umpama aur dengan tebing – tolong-menolong dalam kehidupan

Senin, 08 Juni 2015

SUDUT BAHASA : PESOHOR ATAU PENYOHOR (?)

Oleh Ki Pandhu Arya Dinata pesuruh  orang yang disuruh penyuruh  orang yang menyuruh pesohor  orang yang dibuat tersohor penyohor  orang yang membuat orang atau sesuatu tersohor perusuh  orang yang berbuat rusuh perusuh  orang yang dibuat menjadi rusuh perajin  orang yang berbuat rajin; orang yang bekerja dengan rajin pelari  orang yang suka berlari pelari  orang yang melarikan diri atau melarikan (orang atau sesuatu) pesakit  penyakit  peserta  orang yang disertakan, orang yang (ikut) serta penyerta  pesepak  penyepak  petinju  orang yang hobinya/pekerjaannya bertinju peninju  orang yang hobinya/kesukaannya meninju pegulat  orang yang hobinya/pekerjaannya bergulat penggulat  orang yang hobinya/kesukaannya menggulat peubah  pengubah  pejabat  penjabat  pejalan  penjalan  petugas  penugas  petaruh  penaruh  petarung  penarung  petangkal  penangkal  alat atau orang yang bertugas untuk menangkal petunjuk  alat yang dipergunakan untuk menunjuk(kan) sesuatu penunjuk  alat atau orang yang bertugas menunjuk sohor berasal dari syahur/asyhur(?)  masyhur tersohor  termasyhur pesohor  orang yang disohorkan/dimasyhurkan penyohor  orang yang hobinya/tugasnya/pekerjaannya menyohorkan sesuatu/orang

NAMA-NAMA TEMPAT DI AMERIKA YANG BERASAL DARI TIMUR TENGAH/BAHASA ARAB

Albany - Andalusia - Attalla - Lebanon - Salem - Salaam Karibia - Qariiban Jamaika - Cuba - Quba Havana - La-Habana Grenada Barbados - Bahama - Nassau - Al-Cantara - Bahia - Appalachian Afala-che Absarooka - Abshaaruka Toledo -

Minggu, 07 Juni 2015

MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA, POKOK BAHASAN : MEMAHAMI DENAH DAN PETA

Pokok Bahasan : Memahami Denah dan Peta merupakan salah satu pokok bahasan yang perlu disampaikan/disajikan oleh Guru Bahasa Indonesia. Hal ini mengarahkan siswa agar mereka benar-benar memahami orientasi tempat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada undangan yang disertai dengan denah. Hal ini akan memudahkan tamu undangan untuk menghadiri resepsi yang diselenggarakan oleh tuan rumah. Denah yang dipampangkan dalam bentuk sederhana. Artinya hanya jalan-jalan tertentu yang dicantumkan. Hal ini (diharapkan) sudah cukup jelas dapat dibaca dan dipahami. Hal penting sebagai prinsip dalam membuat denah dan peta ialah: --> Atas = Utara; Jauh/Terjauh --> Bawah = Selatan; Dekat/Terdekat Dalam menyusun denah kelas juga harus diperhatikan prinsip seperti tersebut di atas. Nama-nama siswa/foto-foto siswa yang duduk di bangku dekat/terdekat dipampangkan di bagian bawah. Kemudian berturut-turut sampai yang jauh/terjauh. Artinya nama-nama siswa/foto-foto siswa yang duduk di bangku jauh/terjauh dipampangkan di bagian atas daftar peserta ujian .... Tanpa memperhatikan hal tersebut di atas, daftar peserta ujian .... akan tidak bermanfaat. Daftar peserta ujian .... semacam ini akan membuat bingung pengawas yang hadir di ruang ujian yang bersangkutan. Bagaimana halnya dengan rambu-rambu? Seharusnya rambu-rambu dibuat dengan mematuhi aturan tersebut di atas. Jika dari arah Caruban mau melewati Jalan Raya Caruban - Ngawi tentu rambu-rambu yang terpampang tertulis: SOLO SRAGEN NGAWI PADAS KARANGJATI Artinya SOLO arah dan jarak terjauh, sedangkan KARANGJATI arah dan jarak terdekat. Demikian sekilas pembelajaran dengan pokok bahasan : MEMAHAMI DENAH DAN PETA (perlu disunting lebih lanjut)

Senin, 04 Mei 2015

DI MANA? DI SITU! Oleh Ki Pandhu Arya Dinata

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana tanah dipijak, di situ jalan dilalui. Di mana jalan dilalui, di situ banyak lalu lalang. Di mana ada lalu lalang, di situ ada keramaian. Di mana ada keramaian, di situ ada yang datang ada yang pergi. Di mana ada yang datang dan ada yang pergi, di situ ada tegur sapa. Di mana ada tegur sapa, di situ ada tanya jawab. Di mana ada tanya jawab, di situ masalah diselesaikan. Di mana masalah diselesaikan, di situ satu sengketa teratasi. Di mana satu sengketa teratasi, di situ muncul masalah lagi. Di mana ada masalah lagi, di situ banyak dibicarakan. Di mana banyak dibicarakan, di situ ada sekumpulan orang punya kepentingan. Di mana ada sekumpulan orang punya kepentingan, di situ masing-masing berebut pengaruh. Di mana masing-masing berebut pengaruh, di situ ada pemaksaan kehendak. Di mana ada pemaksaan kehendak, di situ masing-masing tidak mau mengalah. Di mana masing-masing tidak mau mengalah, di situ masalah tidak pernah diselesaikan. Di mana masalah tidak pernah diselesaikan, di situ biasanya berakhir tanpa penyelesaian. Di mana? Di mana-mana!