Selasa, 09 Juni 2015
SURAT : RAGAM SURAT OLEH KI PANDHU ARYA DINATA
Surat adalah alat komunikasi tertulis dari satu pihak kepihak yang lain.
Surat Dagang adalah 1. surat yang digunakan untuk kegiatan perdagangan, 2. surat yang di keluarkan oleh suatu badan atau perusahaan yang digunakan untuk niaga/perdagangan baik yang menyangkut jual beli barang atau jasa utk kelancara proses keniagaan.
Surat Dagang terbagi 2 : 1. Surat perjanjian jual beli, 2. Surat penawaran.
Surat perjanjian jual beli terbagi 2 : 1. Surat perjanjian jual beli di bawah tangan, 2. Surat perjanjian jual beli otentik.
Syarat pembuatan surat perjanjian jual beli :
1. Ada kesepakatan antara kedua belah pihak
2. Ada kesedian antara kedua belah pihak.
3. Tidak ada unsur paksaan.
4. Memahami isi perjanjian.
5. Sudah berusia dewasa.
6. Tidak berada dlm tekanan.
7. Memahami tujuan perjanjian.
8.Ada objek yang menjadi bahan perjanjian.
9. Objek tdk dalam sengketa.
Bagian-bagian surat perjanjian jual beli di bawah tangan:
1. Judul.
2. Nama-nama pihak yang melakukan perjanjian
pihak 1 : penjual
Pihak 2 : Pembeli
3. Pernyataan kesepakatan .
4. Isi perjanjian .
5. Jangka waktu .
6. Tempat tinggal terap kedua belah pihak .
7. Tempat/acara penyelesaian apabila terjadi perselisihan .
8. Berapa rangkap surat tersebut di buat .
9. Penanda tangan surat perjanjian .
10. Saksi2 dalam perjanjian biasa nya 3 orang .
Jenis2 Surat Niaga :
1. Surat penawaran barang .
2. Surat perjanjian jual beli .
3. Surat penolakan .
4. Surat permintaan barang . (pesanan)
5. Surat pengantar barang .
6. Surat pengeluaran barang . (faktur)
7. Surat tuntutan ganti rugi/ klaim .
8. Surat keunggulan barang .
9. Surat perjanjian kontrak .
10. Surat perjanjian sewa menyewa .
Bagian2 Surat Niaga :
1. Kepala surat .
2. Tempat dan tanggal pembuatan surat .
3. Nomor surat .
4. Lampiran .
5. Perihal .
6. Alamat yang di tuju .
7. Salam pembuka .
8. Isi terdiri dari 3 bagian : - Pembuka/pendahuluan .
- Isi/inti .
- Penutup .
9. Salam penutup .
10. Tanda tangan dan nama terang pembuat surat .
Dalam surat penawaran niaga perli di sebutkan hal2 berikut :
- Dasar penawaran barang/jasa .
- Perincian harga setiap barang .
- Jumlah ke seluruhan barang .
B. Surat Kuasa .
Adalah surat yang digunakan untuk memberikan wewenang kpd seseorang atau lembaga yang di percaya untuk mewakili orang yang bersangkutan dalam melaksanakan suatu tindakan atau mengurus suatu urusan tertentu .
Sebelum memberi kuasa harus memilih orang atau lembaga yang betul2 di percaya dan harus jelas memberi batas wewenang yang akan diberikan .
Dalam menulis surat kuasa harus memperhatikan hal2 sbb :
1. Menentukan kegiatan yang akan di kuasakan .
2. Memilih orang/lembagayang di beri kuasa .
3. Menetukan batas2 kuasa yang akan diberikan .
4. Mencantumkan tempat dab tanggal pembuatan surat kuasa .
5. Ditulis di atas kertas segel atau di beri materai secukup nya .
6. Orang yang di beri kuasa dpt di percaya .
7. Orang yang di beri kuasa harus memdatangi surat kuasa agar sah .
8. Orang yang di beri kuasa harus dewasa dan sehat jasmani dan rohani .
9. Memantau pelaksanaan kuasa yang di lipampah kan .
10. Meminta pertanggung jawaban pelaksanaan kuasa yang di limpah kan .
Bagian dalam surat kuasa :
1. Judul .
2. Identitas pihak pertama yang memberi kuasa .
3. Identitas pihak kedua yang di berikan wewenang
4. Isi kuasa .
5. Tempat dan tanggal pembuatan .
6. Penanda tangan surat kuasa .
http://arif-rahmadhan.blogspot.com/2011/10/pengertian-surat-dagang-dan-surat-kuasa.html
Contoh Surat Penawaran – Pengertian Surat penawaran adalah surat yang dikirim pihak penjual kepada calon pembeli untuk menawarkan barang dagangannya.
Berikut ini merupakan contoh surat penawaran
SURAT PENAWARAN
Jakarta, 10 Oktober 2013
Kepada Yth
PT. …..
Di,-
Jakarta
No. : …/…./2013
Hal : Penawaran Barang Dan Jasa
Lamp. : 1 Berkas
Dengan Hormat
Dengan surat ini kami bermaksud memperkenalkan perusahaan kami PT. Pengadaan Barang Jasa, kepada Bapak / Direktur PT. …………………..
Kami adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan barang dan jasa pemasangan instalasi litrik dan telah berpengalaman melakukan pemasangan listrik di gedung-gedung perkantoran atau pertokoan.
Karena itu sesuai informasi yang kami peroleh, PT …………….. adalah perusahaan properti yang sedang berkembang pesat dan akan membangun lagi gedung pertokoan dan perkantoran. Sehubungan hal itu, kami mengajukan penawaran untuk pemasangan dan instalasi listrik sesuai bidang kami.
Harapan kami, penawaran ini dapat terwujud dalam bentuk kerjasama sehingga dapat menguntungkan kedua belah pihak. Jika perusahaan bapak berminat kami siap melakukan pembicaraan lebih lanjut
Demikian surat penawaran ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerja samanya kami sampaikan banyak terima kasih
Hormat kami,
PT. ………………………
(…………………………)
Manajer Pemasaran
Sumber Tautan :
http://contoh-surat.net/contoh-surat-penawaran
SASTRA : HAKIKAT CERITA REKAAN OLEH KI PANDHU ARYA DINATA
Deskripsi cerita rekaan :
[Sas] cerita yang sengaja dikarang oleh pengarangnya sebagai hasil khayalannya; cerita khayal; fiksi
http://www.deskripsi.com/c/cerita-rekaan
Hakekat Cerita Rekaan
Cerita rekaan (cerkan) ialah karangan yang berbentuk cerita bersifat imajinatif, khayalan, atau fiktif (sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata). Dengan demikian, kebenaran yang terdapat dalam cerkan tidak harus sama dan memang tidak perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Oleh karena itulah, cerkan dapat diartikan sebagai kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita yang bertolak dari hasil imajinasi pengarang.
Melalui cerkan, seperti cerpen atau novel, sering dapat diketahui keadaan, cuplikan kehidupan. Bahkan tak jarang sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca sebuah novel atau cerpen daripada membaca laporan-laporan ilmiah. Melalui cerkan yang menyarankan berbagai kemungkinan moral, sosial, dan psikologi itu, orang dapat lebih cepat mencapai kematangan bersikap. Dengan memasuki “segala macam situasi” dalam cerkan, orang pun akan dapat menempatkan diri pada kehidupan yang lebih luas daripada situasi dirinya yang nyata.
Aliran-aliran dalam Cerita Rekaan
Perubahan zaman juga menyebabkan perubahan sikap hidup manusia. Perubahan sikap hidup tersebut pada gilirannya akan melahirkan paham atau aliran pemikiran baru. Setiap zaman akan melahirkan aliran dan paham baru yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan zaman sebelumnya.
Aliran dalam konteks ini diartikan sebagai suatu keyakinan atau paham. Dalam dunia seni, termasuk seni sastra, keyakinan atau paham tersebut akan terpancar dalam seluruh hasil penciptaan, baik dalam aspek bentuk maupun isi. Bahkan tidak jarang aliran tersebut juga mempengaruhi gaya dan sikap pengarang.
Romantisme adalah aliran kesenian-kesusastraan yang mengutamakan perasaan. Pengarang berusaha mengidealisasikan kehidupan dan pengalaman manusia dengan menekankan pada hal yang lebih baik, lebih enak, lebih indah, dan serba menyenangkan.
Realisme adalalah aliran dalam kesusastraan (seni pada umumnya) yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Para tokoh aliran ini berpendapat bahwa tujuan seni adalah untuk menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.
Pengarang naturalisme juga melukiskan dengan cermat dan teliti apa yang dapat dilihat dan dirasa oleh pancaindra. Hal yang membedakannya, dalam aliran naturalisme, umumnya, para pengarang terutama memusatkan perhatian pada alam, pada manifestasi kebendaan dari kehidupan manusia.
Sebagai sebuah aliran kesenian, simbolisme muncul sebagai reaksi terhadap realisme dan naturalisme. Dalam realisme dan naturalisme seorang pengarang atau sastrawan melukiskan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif. Sebaliknya, dalam aliran simbolisme mementingkan hadirnya simbol atau lambang sebagai media pengungkapan sesuatu. Yang ingin ditampilkan secara simbolis adalah pengalaman batin.
Aliran absurdisme muncul sebagai suatu bentuk respon untuk menggambarkan kehidupan manusia modern yang seringkali sukar dipahami. Kehidupan manusia modern dengan segala problematikanya yang serba membingungkan, sulit dipahami, dan simpang siur.
Cerkan Melayu Klasik
Kehidupan sastra tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. Pemahaman terhadap perkembangan sastra, khususnya sastra Melayu Klasik, harus dihubungkan dengan perkembangan kebudayaan masyarakat pada masa itu. Sementara itu, kehidupan sastra Melayu itu sendiri dapat dikaitkan dengan kesusasteraan rakyat. Selanjutnya, pembahasan sejarah sastra (cerkan) Melayu Klasik berkaitan dengan keberadaan kesusasteraan rakyat tersebut.
Kesusasteraan rakyat adalah sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat, dituturkan oleh ibu kepada anaknya yang dalam buaian, dituturkan tukang cerita kepada penduduk-penduduk sekitarnya. Jenis-jenis cerita yang dimaksud, yaitu (1) cerita asal-usul, (2) cerita binatang, (3) cerita jenaka, (4) cerita pelipur lara, dan (5) cerita berbingkai.
Cerita asal-usul adalah cerita yang berisi gambaran kejadian atau peristiwa tentang asal mula suatu tempat atau wilayah geografis, nama suatu tempat atau wilayah, benda, tumbuh-tumbuhan, buah, dan sebagainya. Cerita binatang adalah cerita yang pendek dan sederhana, biasanya dengan tokoh binatang atau benda yang berkelakuan seperti manusia. Cerita jenaka adalah cerita yang lucu atau jenaka yang mengandung perbandingan atau sindiran. Sesuai dengan namanya, cerita pelipur lara ialah cerita yang dipakai untuk menghibur hati yang lara. Cerita untuk menghibur hati yang berduka dan hati yang nestapa. Cerita berbingkai adalah bentuk cerita yang di dalamnya terdapat pula cerita lain, sehingga cerita pertama merupakan bingkai dari cerita kedua, cerita kedua sebagai bingkai cerita ketiga dan seterusnya.
Cerkan Pra-Kemerdekaan
Kesusastraan Indonesia Modern lahir pada sekitar tahun 1920. Penyebutan tahun 1920 sebagai awal perkembangan sastra Indonesia Modern berdasarkan dua hal pokok, yaitu (1) media bahasa yang digunakan, dan (2) corak isi yang ada dalam karya. Penggunaan kata modern pada Sastra Indonesia Modern pada prinsipnya tidak dipertentangkan dengan kata klasik. Kata modern dipergunakan sekedar menunjukkan betapa intensifnya pengaruh Barat pada perkembangan dan kehidupan kesusasteraan pada masa itu.
Perkembangan cerkan dalam sastra Indonesia ditandai dengan terbitnya Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Dengan terbitnya kedua novel tersebut dianggap mulailah masa baru dalam perkembangan sastra Indonesia. Kedua novel tersebut dianggap sebagai bentuk sastra baru yang berbeda dari hasil sastra yang pernah ada dan dikenal sebelumnya. Kedua novel tersebut tidak lagi dapat disebut sebagai suatu hikayat.
Tradisi penulisan cerpen di Indonesia dimulai oleh Mohamad Kasim sekitar tahun 1930-an, pada saat ia menulis cerita pendek untuk majalah Panji Pustaka. M. Kasim menulis cerpen berdasarkan cerita-cerita lucu yang hidup di masyarakat, cerita dari mulut ke mulut dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengetahui bahwa warga masyarakat suka pada cerita-cerita lucu, maka dengan cerita-cerita tersebut orang diajak untuk tertawa. Cerita-cerita lucu tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Balai Pustaka dengan judul Teman Duduk.
Cerkan Paska Kemerdekaan
Persoalan zaman dan kemasyarakatan dari kurun waktu tertentu berpengaruh pada pemilihan tema-tema yang diungkapkan para sastrawan dalam karya-karyanya. Perges¬eran persoalan zaman dan persoalan kemasyarakatan akan menyebabkan pergeseran pemilihan tema. Perkembangan kesusastraan Indonesia, termasuk di dalamnya novel, merupakan suatu proses yang wajar. Dengan kata lain, bagaimanapun hebat dan bervariasinya perkembangan sastra, ia masih tetap merupakan gambaran dan lanjutan dari proses masyarakat yang sedang berubah.
Uraian tentang sejarah cerkan masa pascakemerdekaan dilakukan dengan membahas pengarang dan karyanya, yang dianggap membawa perubahan pada kurun waktu tertentu. Melalui pembahasan terhadap pengarang dan karyanya itu diharapkan dapat diperoleh informasi yang terkait dengan perjalanan dan perkembangan tradisi penulisan cerkan.
Jenis Cerita Rekaan
Berdasarkan bentuknya, secara sederhana jenis cerkan dikelompok¬kan dalam tiga jenis, yaitu (1) novel, (2) novelet (novelette), dan (3) cerita pendek (short story). Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dengan panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan yang representatif dalam suatu alur atau keadaan. Kata novelet berasal dari novelette yang diturunkan dari kata novel dengan penambahan sufiks – ette, yang berarti kecil. Dengan singkat dapat dinyatakan bahwa novelet mengandung pengertian novel kecil. Cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan tunggal pada jiwa pembaca.
Perbedaan antara Cerpen dan Novel
Plot, tokoh, latar, dan lain-lainnya merupakan elemen yang biasanya membentuk kedua jenis karya cerkan itu. Akan tetapi, pengalaman pembaca dan apresiator cerpen dapat berbeda dalam beberapa hal, jika dibandingkan dengan pengalamannya tatkala berhadapan dengan novel.
Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. Sementara itu, novel memungkinkan adanya penyajian secara panjang lebar mengenai tempat (ruang) tertentu. Oleh karena itu, tidaklah mengheran¬kan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok perma¬salahan yang selalu menarik per¬hatian para novelis. Masyara¬kat¬ memiliki dimensi ruang dan waktu.
Jika umumnya cerpen mencapai keutuhan (unity) secara eksklusi (exclusion), artinya cerpenis membiarkan hal-hal yang dianggap tidak esensial; novel mencapai keutuhannya seca¬ra inklusi (inclusion), yakni bahwa novelis mengukuhkan keseluruh¬annya dengan kendali tema karyanya. Dalam kaitan ini, harus dicatat bahwa berbagai hal yang sudah dikemukakan tersebut cenderung dapat dijumpai pada cerkan konvensional.
Novel Populer dan Novel Serius
Dalam dunia kesastraan sering ada usaha untuk membedakan antara novel serius dan novel populer. Kenyataannya, usaha pembedaan tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Penggolongan novel menjadi novel serius dan novel populer seringkali dipengaruhi oleh kesan yang bersifat subjektif, seperti siapa pengarangnya dan siapa penerbitnya.
Pada dasarnya novel populer merupakan kelanjutan dari apa yang dinamai novel picisan sejak sebelum perang dunia kedua. Penamaan novel atau roman picisan berasal dari Parada Harahap, seorang wartawan, pada tahun 1939 ketika terjadi polemik dengan pengarang roman picisan Matu Mona. Istilah itu kemudian berubah menjadi “hiburan” pada tahun 1960-an, seiring dengan berkembangnya majalah-majalah yang dinamai majalah hiburan. Selanjutnya pada dekade 70-an itulah berubah lagi menjadi kata populer.
Disebut dengan novel populer karena karya tersebut baik dari sisi tema, cara penyajian, teknik, bahasa, maupun gaya meniru pola umum yang digemari masyarakat pembacanya. Corak novel pop cenderung seragam dan dikerjakan secara tergesa-gesa karena desakan pasar. Akibatnya, corak novel populer hampir sama di suatu kurun waktu tertentu.
Unsur Intrinsik Cerita Rekaan
Sebuah karya sastra, termasuk cerkan pada dasarnya merupakan sebuah totalitas, suatu kesatuan menyeluruh yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, cerkan mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun cerkan itu sendiri dari dalam. Unsur-unsur itulah yang menegaskan sebuah karya dapat disebut atau dikelompokkan dalam karya sastra (cerkan). Dengan demikian, unsur intrinsik merupakan salah satu acuan untuk menentukan keberadaan suatu cerkan. Robert Stanton mengelom¬pokkan elemen-elemen pembangun cerkan menjadi tiga bagian, yaitu (1) fakta cerita, (2) sarana cerita, dan (3) tema.
Unsur Intrinsik Cerita Rekaan
Unsur intrinsik dapat disebut mempunyai nilai estetik, jika pengarang mampu menuangkannya dalam satu rangkaian ide yang termanifestasi dari karakter tokoh, persoalan yang dihadapi, pemecahan persoalan.
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar cerkan, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisasi cerkan. Dengan kata lain, unsur ekstrinsik adalah unsur yang mempengaruhi bangun cerita, namun unsur tersebut tidak menjadi bagian di dalamnya. Meskipun demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh pada totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur ekstrinsik sebuah cerkan, haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting.
Membaca Cerita Rekaan
Istilah membaca dapat mencakup pengertian yang luas sekali. Hal itu terjadi karena membaca dapat dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan (1) tujuan, (2) proses kegiatan, (3) objek bacaan, dan (4) media yang digunakan. Secara umum dapat dinyatakan bahwa hakikat membaca mencakup beberapa hal, yaitu (1) membaca adalah kegiatan mereaksi, (2) membaca merupakan suatu proses, dan (3) membaca adalah upaya pemecahan kode dan penerimaan pesan.
Membaca diartikan sebagai proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan tersebut.
Dalam kegiatan membaca cerkan, pembaca berada dalam posisi aktif dan bukan pasif. Keaktifan tersebut bukan sekedar aktif memahami bacaan, melainkan keaktifan yang penuh kreativitas, yang membuat membaca itu mempunyai nilai tersendiri bagi pembaca. Hal itu mengindikasikan bahwa dengan membaca cerkan, pembaca akan memperoleh “sesuatu” yang bernilai bagi kehidupan.
Menikmati Cerita Rekaan
Kegiatan membaca cerkan dapat dilakukan dengan berbagai motivasi. Sebagian besar orang membaca cerkan sebagai pengisi waktu. Ada pula yang membaca cerkan sebagai sarana memperoleh hiburan. Selanjutnya, pembaca yang serius ingin memperoleh suatu pengalaman baru dari cerkan yang dibacanya. Kegiatan membaca cerkan dilakukan untuk memperoleh pengalaman literer.
Jika kita membaca cerkan dan mencoba menghayati, sesungguhnya kita untuk sementara waktu memutuskan hubungan dengan dunia nyata, masuk ke dalam dunia tak nyata yang bersifat pribadi. Pengalaman emosional dan intelektual inilah yang disebut pengalaman literer.
Kegiatan membaca cerkan pada dasarnya juga merupakan kegiatan berapresiasi sastra secara langsung. Membaca adalah aktivitas pertama dari serangkaian aktivitas lainnya dalam kaitannya dengan upaya menikmati cerkan.
Tokoh, Penokohan, dan Teknik Penceritaan
Peristiwa dalam cerkan seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerkan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh.
Berdasarkan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi dua, yakni tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Berdasarkan watak atau karakternya, dikenal adanya tokoh sederhana dan tokoh kompleks. Berdasarkan fungsi penampilan, terdapat tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan, dibedakan menjadi tokoh statis dan tokoh berkembang.
Persoalan seorang pengarang tidak hanya dalam hal memilih jenis tokoh yang akan disajikan dalam ceritanya, tetapi juga dengan cara apakah ia akan me¬nya¬jikan tokoh ciptaannya. Dalam hubungan ini, dikenal sejumlah cara yang se¬ring dapat dipergunakan, masing-masing dengan kelebihan dan keku¬rang¬an¬nya. Ada yang membedakan cara-cara yang sering dipakai itu menjadi cara analitik dan dramatik; metode langsung dan tak langsung; metode uraian dan ragaan; dan metode diskursif, dramatik, dan campuran.
Latar Belakang Cerita dan Waktu Penceritaan
Sebuah cerkan, baik cerpen maupun novel, harus terjadi pada suatu tempat dan dalam suatu waktu, seperti halnya kehidupan ini yang juga berlangsung dalam ruang dan waktu. Elemen cerkan yang menunjukkan kepada kita di mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut setting ’latar.’
Deskripsi latar cerkan secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat adalah hal yang berkaitan dengan masalah geografis, latar waktu berkaitan dengan masalah historis, dan latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasya¬rakatan.
Terdapat empat elemen/unsur yang membentuk latar cerkan. Pertama, lokasi geografis yang sesungguhnya, termasuk di dalamnya ialah topografi, scenery ‘pemandangan’ tertentu, bahkan detail-detail interior sebuah kamar/ruangan. Kedua, pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari. Ketiga, waktu terjadinya action ‘tindakan’ atau peristiwa, termasuk periode historis, musim, tahun, dan sebagainya. Keempat, lingkungan religius, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh-tokohnya.
Latar suatu cerkan, biasanya, dibedakan menjadi dua tipe, yaitu neutral setting ‘latar netral’ dan spiritual setting ‘latar spiritual’. Ada beberapa fungsi yang dapat ditempati oleh latar dalam cerkan, misalnya latar sebagai metafora, latar sebagai atmosfer, dan latar sebagai pengedepanan (foregrounding).
Sudut Pandang dan Fokus Pengisahan
Untuk menceritakan suatu hal dalam cerkan, pengarang dapat memilih dari sudut manakah ia akan bercerita. Bisa saja pengarang berdiri sebagai orang yang berada di luar cerita dan mungkin pula ia mengambil peran serta dalam cerita itu. Sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita, sehingga tercipta suatu kesatuan cerita yang utuh.
Sudut pandang pada dasarnya adalah visi pengarang. Artinya, ia merupa¬kan sudut pandangan yang diambil oleh pengarang untuk melihat peristiwa dan kejadian dalam cerita. Dalam kaitan ini, hendaknya dibedakan antara pandangan yang diambil oleh pengarang itu dengan pandangan pengarang sebagai pribadi. Karena, sebuah cerkan sesungguhnya merupakan pandangan pengarang terhadap kehidupan.
Lazimnya, sudut pandang yang umum dipergunakan oleh para pengarang dibagi menjadi empat jenis, yakni (1) sudut pandang first person-central atau akuan-sertaan; (2) sudut pandang first-person peripheral atau akuan-taksertaan; (3) sudut pandang third-person-omniscient atau diaan-mahatahu; (4) sudut pandang third-person-limited atau diaan-terbatas. Di samping jenis-jenis sudut pan¬dang di atas, sering dijumpai pula cerkan yang mempergunakan sudut pandang campuran: dalam sebuah cerkan dijumpai lebih dari sebuah sudut pandang.
Alur dan Struktur
Seorang penulis cerita harus menciptakan plot atau alur bagi ceritanya itu. Hal ini berarti bahwa plot atau alur cerita sebuah cerkan menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian kepada pembaca tidak hanya dalam sifat kewaktuan atau temporalnya, tetapi juga dalam hubungan-hubungan yang sudah diperhitungkan. Plot sebuah cerita akan membuat pembaca sadar terhadap peristiwa-peristiwa yang dihadapi atau dibacanya tidak hanya sebagai subelemen-elemen yang jalin-menjalin dalam rangkaian temporal, tetapi juga sebagai suatu pola yang majemuk dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab-akibat.
Struktur plot sebuah cerkan dapat dibagi secara kasar menjadi tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir. Berkaitan dengan penyusunan alur dalam cerkan dikenal beberapa kaidah, yaitu (1) kemasukakalan, (2) kejutan, (3) ketidaktentuan, dan (4) keutuhan. Jenis alur dapat dibedakan dengan beberapa kriteria, (1) berdasarkan penyusunan peristiwa, dikenal alur kronologis dan alur sorot balik, (2) berdasarkan segi akhir cerita, terdapat alur terbuka dan alur tertutup, (3) dari segi kuantitasnya, dikenal alur tunggal dan alur jamak, dan (4) dari segi kuali¬tasnya, terdapat alur rapat dan alur longgar.
Tema dan Amanat
Dalam pengertiannya yang paling sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Tema lebih merupakan sebagai sejenis komentar terhadap subjek atau pokok masalah, baik secara eksplisit maupun implisit. Jadi, di dalam tema terkandung sikap pengarang terhadap subjek atau pokok cerita. Dalam kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema adalah suatu yang diciptakan oleh pengarang sehubungan dengan pengalaman total yang dinyatakannya.
Di samping fungsinya memberi kontribusi bagi elemen struktural lain seperti plot, tokoh, dan latar; fungsi tema dalam cerkan yang terpenting ialah menjadi elemen penyatu terakhir bagi keseluruhan cerkan itu. Artinya, pengarang menciptakan dan membentuk plot, membawa tokohnya menjadi ada, baik secara sadar maupun tidak, eksplisit maupun implisit, pada dasarnya merupakan peri¬laku responsifnya terhadap tema yang telah dipilih dan telah mengarahkannya.
Tema cerkan umumnya diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni tema physical ‘jasmaniah’, tema organic ‘moral’, social ‘sosial’, egoic ‘egoik’, dan divine ‘ketuhanan’. Tentu, tema cerkan masih dapat diklasifikasikan dengan ca¬ra selain ini, misalnya tema tradisional dan tema modern. Klasifikasi di atas lebih merupakan pembagian yang didasarkan pada subjek atau pokok pembicaraan da¬lam cerkan.
Bahasa Dalam Cerkan
Gaya merupakan cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa gaya adalah orangnya: gaya pengarang adalah suara-suara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya.
Menganalisis gaya sebuah cerkan berarti menganalisis wujud verbal cerkan itu. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata-kata, kelompok kata, kalimat, dan ungkapan yang pada akhirnya akan ikut menentukan keberhasilan, keindahan, dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya itu.
Respon Cerkan
Apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. Dalam pengertian apresiasi tersirat adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara konkret. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kegiatan secara langsung, dan (2) kegiatan secara tidak langsung.
Karya sastra menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. Di samping itu, sastra juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik yang berhubungan dengan masalah agama, filsafat, politik maupun macam-macam problematika kehidupan. Kandungan makna yang kompleks dan keindahan dalam karya sastra tergambar lewat media kebahasaan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks, yaitu (1) unsur keindahan, (2) unsur kontemplatif, yang berhubungan dengan nilai keagamaan, filsafat, politik, serta realitas kehidupan lainnya, (3) media pemaparan, yaitu berupa aspek kebahasaan, dan (4) unsur-unsur intrinsik yang menandai eksistensi karya sastra.
Meresensi Cerkan
Kata “resensi” berarti pertimbangan atau pembicaraan. Jadi, resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. Istilah lain yang sering dipakai sebagai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan, bedah, atau ulasan buku. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Tujuan resensi yaitu menyampaikan kepada pada pembaca, apakah sebuah buku atau hasil karya itu layak mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Seorang penulis resensi harus bertolak dari tujuan untuk membantu pada pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca karya cerkan tertentu. Dengan demikian, peresensi harus secara terus-menerus berusaha menyesuaikan pertimbangannya dengan selera pembaca. Penulis resensi harus memperhatikan hal pokok yang perlu diperhatikan, yaitu (1) tanggung jawabnya terhadap pembaca dan (2) bagaimana penilaian terhadap buku dilakukan.
Konsep Pembacaan Cerita
Secara konseptual, pembacaan cerita dapat dikaitkan dengan dua ragam atau bentuk membaca, yaitu membaca teknik dan membaca estetis. Istilah membaca teknik sering juga disebut membaca lisan (oral reading) atau membaca nyaring (reading aloud). Membaca teknik dapat dihubungkan dengan kegiatan membaca cerkan, seperti story telling, yang bersifat redeskriptif
Pembacaan sastra merupakan kegiatan membaca yang bersifat redeskriptif. Artinya, bunyi ujar atau suara tidak muncul secara sewenang-wenang, tetapi harus mampu menggambarkan isi cerita serta suasana awal yang dipaparkan pengarang dalam teks tertulis. Dengan demikian, dalam membacakan cerita, seorang pembaca dituntut untuk mengetahui dan memahami maksud dan suasana yang dibangun pengarang melalui teks verbal cerita.
Kegiatan Pembacaan Cerita
Terdapat tiga unsur utama yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan membaca teks cerkan secara lisan. Ketiga unsur utama yang dimaksud, yaitu (1) pemahaman, (2) penghayatan, dan (3) pemaparan.
Pemahaman berkaitan dengan kemampuan memahami makna dalam bacaan cerkan, memahami suasana penuturan dalam cerkan yang dibaca, sikap pengarang, serta intensi yang mendasarinya. Kemampuan menghayati juga berkaitan dengan aspek (1) makna, (2) suasana penuturan, (3) sikap pengarang, dan (4) intensi pengarang. Wujud konkret dari kemampuan memahami dan menghayati isi bacaan akan tampak dalam pemaparan atau penampilan. Dengan kata lain, pemaparan atau penampilan sangat ditentukan oleh kualitas pemahaman dan penghayatan.
Hakikat Menulis Kreatif
Terdapat dua tujuan yang dapat dicapai melalui kegiatan pengembangan penulisan kreatif, yakni yang bersifat apresiatif dan yang bersifat ekspresif. Kedua tujuan utama tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pembentukan pribadi yang kreatif. Berdasarkan kenyataan, harus diakui bahwa ciri-ciri yang melekat pada pribadi kreatif sering tidak dapat dipisahkan secara tegas antara ciri yang satu dan ciri yang lainnya.
Karya kreatif yang baik bukanlah suatu formula, rumus-rumus, atau jurus-jurus kehidupan, tetapi ia merupakan model-model kreatif tentang kemanusiaan. Karya-karya tersebut akan menyarankan berbagai kemungkinan yang berhubungan dengan moral, psikologi, dan masalah-masalah sosial budaya.
Terdapat tiga daerah fundamental kehidupan manusia yang menjadi sumber penciptaan teks kreatif, yakni bidang agama, bidang sosial, dan bidang individual. Dengan kata lain, teks kreatif akan senantiasa berurusan dengan masalah manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dalam hubungannya dengan manusia lain atau alam, dan dalam hubungannya dengan diri sendiri.
Menulis Cerkan
Anggapan bahwa keterampilan menulis muncul hanya karena adanya bakat istimewa tidak benar. Demikian juga, anggapan bahwa sastrawan itu dilahirkan dan bukan dibentuk tidak sepenuhnya benar. Seperti tukang jahit atau tukang bengkel, keterampilan menulis itu juga dapat dipelajari.
Menulis cerpen pada dasarnya menyam¬paikan sebuah pengalaman kepada pembacanya. Menulis cerpen bukan sekedar “memberitahukan” sebuah cerita. sebuah cerpen bukan hanya menyampaikan cerita, melainkan juga menggambarkan sebuah pengalaman dalam bentuk cerita. Oleh karena itu, salah satu syarat agar cerpen dianggap berhasil yaitu bagaimana membawa pembacanya memasuki pengalaman cerita itu.
Semua cerita pada dasarnya memiliki sebuah pola atau struktur bentuk. Struktur ini melibatkan berbagai macam unsur yang membentuk suatu kesatuan atau satu keutuhan. Struktur sebuah cerita secara mudah dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yaitu (1) bagian permulaan, (2) bagian tengah, dan (3) bagian akhir. Struktur bentuk cerita itulah yang pada akhirnya membentuk sebuah tatanan yang disebut alur atau plot
Pengertian dan Ciri Cerita Remaja
Kurikulum sastra sekolah menengah perlu menyediakan ruang untuk sastra yang diproduksi oleh remaja, sastra yang diucapkan dengan gaya remaja, dan sastra yang dipenuhi oleh tema-tema dunia remaja. Sudah waktunya, pengertian dan ruang lingkup sastra di sekolah menengah diperluas, sehingga tidak didominasi oleh kategori-kategori sastra kanonik atau sastra adiluhung.
Sastra remaja adalah hasil karya sastra yang menampilkan permasalahan remaja dan berusaha untuk memenuhi selera remaja. Tema atau permasalahan yang diangkat, tokoh-tokoh, serta gaya bahasanya disesuaikan dengan selera dan dunia remaja. Ada beberapa istilah untuk menyebut sastra remaja, antara lain chicklit (akronim dari chick literature) dan teenlit (akronim dari teen literature), yang dapat diartikan sebagai literatur remaja. .
Cerita remaja mempunyai ciri-ciri tersendiri sesuai dengan selera penikmatnya. Tidak ada pengarang cerita remaja yang sanggup berkarya dengan mengabaikan dunia remaja. Dunia remaja tidak dapat diremehkan dalam proses kreatif penciptaan sastra remaja. Oleh karena itu, walaupun cerita remaja diciptakan oleh orang dewasa, seolah-olah cerita tersebut merupakan ekspresi diri remaja lewat idiom-idiom bahasa remaja.
Jenis-jenis Cerita Remaja
Berdasarkan persoalan yang digambarkan, cerita remaja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu (1) cerita detektif, (2) cerita petualangan, dan (3) cerita drama percintaan atau kehidupan keluarga. Ketiga kelompok jenis cerita tersebut tidaklah terpisah satu sama lain, melainkan dapat bertumpang tindih.
Cerita detektif adalah cerita yang berisi mengenai berbagai usaha pelacakan dan penyingkapan terhadap berbagai macam kemungkinan objek tertentu yang tidak mudah tertangkap secara inderawi. Sesuai dengan kemung¬kinan makna di atas, di dalam cerita detektif terdapat beberapa unsur yang penting. Pertama, orang yang melakukan pelacakan. Kedua, objek yang dilacak. Ketiga, faktor-faktor yang menyebabkan tersembunyinya objek yang dilacak. Keempat, alat-alat atau cara-cara yang ditempuh dalam proses pelacakan sehingga berbagai faktor yang menyebabkan tersembunyinya objek yang bersangkutan dapat diatasi.
Petualangan merupakan kata benda abstrak dari kata kerja berpetualang, segala hal yang bersangkutan dengan kegiatan bertualang. Bertualang sendiri berarti tindakan yang dilakukan untuk mengalami hal-hal yang belum diketahui, belum dialami, yang luar biasa, mengejutkan, menakutkan, atau yang mengandung bahaya. Sebagaimana halnya dalam cerita detektif, dalam cerita petualangan akan selalu terdapat tokoh hang berpetualang. Ada daerah atau objek petualangan. Adanya rintangan-rintangan di dalam dan di sekitar objek petualangan. Ada cara mengatasi tantangan itu.
Cerita drama berusaha menciptakan keterlibatan emosional atau perasaan pembaca, mengajak pembaca ikut merasakan kebahagiaan atau kesedihan hati tokoh-tokoh cerita. Persoalan utama dalam cerita detektif berkisar pada masalah tahu atau tidak tahu, persoalan utama dalam cerita petualangan adalah hidup atau mati, malu atau terhormat, persoalan utama dalam cerita drama adalah bahagia atau menderita. Oleh karena menyangkut bahagia atau derita, gembira atau sedih, cerita drama tidak mengenal hubungan antara subjek dengan objek, subjek yang mendeteksi dan objek yang dideteksi, subjek yang berpetualang dan objek petualangan. Hubungan dalam drama cenderung intersubjektif, yaitu hubungan antara subjek dengan subjek lain.
Mereproduksi Cerita
Ringkasan (precis) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Oleh karena ringkasan bertolak dari penyajian suatu karya asli secara singkat, pembuatan ringkasan merupakan suatu keterampilan melakukan kegiatan reproduksi.
Seorang pengarang atau penulis ringkasan harus berbicara atau bertutur dalam suara pengarang asli. Oleh sebab itu, pengunaan kata dalam memulai menulis ringkasan harus diperhatikan. Penulis ringkasan dapat secara langsung mulai dengan merangkai intisari cerita dalam kalimat, alinea, dan bagian yang dianggap penting.
Tujuan utama membuat ringkasan cerita yaitu sebagai salah satu sarana untuk mengetahui dan memahami isi sebuah buku atau karya cerkan. Dengan membuat ringkasan, sebenarnya kita sedang mempelajari bagaimana seorang penulis yang baik menyusun karangannya, bagaimana ia menyamaikan gagasan gagasan dalam bahasa dan susunan yang baik, bagaimana ia dapat menampilkan permasalahan sekaligus memecahkan masalah tersebut, dan sebagainya.
Cerita-Ulang Cerita
Penceritaan adalah pemindahan cerita atau penyampaianya kepada penyimak atau pendengar. Terdapat perbedaan besar antara pembacaan dengan penyampaian cerita. Penceritaan atau bercerita yang baik akan menyebarkan ruh baru yang kuat dan menampakkan gambaran yang hidup di hadapan pendengar. Memberikan potret yang jelas dan menarik, intonasi, gerakan-gerakan, dan emosinya. Ia dapat menghidupkan setiap tokoh dengan karakter seperti yang dituntut dalam cerita.
Kita menganggap bahwa bercerita dengan cara yang baik, rata-rata, adalah sesuatu yang lebih bersifat alami daripada dibuat-buat. Namun, kita juga hendaknya tidak melupakan manfaat dari latihan dan belajar dalam mengusahakan metode yang tepat. Untuk itu, membaca petunjuk-petunjuk yang tertulis saja tidak cukup. Harus ditambah pula dengan praktek dan melampaui pengalaman dalam waktu yang tidak singkat. Jika guru telah selesai bercerita dengan memperhatikan poin-poin terdahulu, maka guru dapat meminta para siswa untuk mengungkap ulang cerita dengan salah satu cara – dan banyak cara – pengungkapan cerita.
Buku sumber Cerita Rekaan Karya Prof. Dr. Suminto A. Sayuti
Sumber Tautan:
https://massofa.wordpress.com/2009/12/07/hakikat-cerita-rekaan/
PARAGRAF : RAGAM PARAGRAF OLEH KI PANDHU ARYA DINATA
Ide pokok adalah ide yang menjadi pokok pengembangan paragraf. Ide pokok ini terdapat dalam kalimat utama. Dalam satu paragraf hanya ada satu ide pokok. Nama lain ide pokok adalah gagasan utama, gagasan pokok, pikiran utama.
Kalimat utama adalah 1. kalimat yang di dalamnya terdapat ide pokok paragraf, 2. kalimat yang menjadi dasar pengembangan paragraf. Dalam satu paragraf hanya terdapat satu kalimat utama. Istilah lain kalimat utama, ialah kalimat topik.
Kalimat utama ini dijelaskan oleh kalimat-kalimat lain dalam paragraf tersebut, yang disebut dengan kalimat penjelas.
Kalimat penjelas yaitu kalimat yang menjelaskan kalimat utama.
Gagasan penjelas ialah gagasan yang terdapat dalam kalimat penjelas.
Paragraf Deduktif ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf. Kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat-kalimat penjelas.
Contoh 1 Paragraf Deduktif;
(1) Seseorang akan diuji dengan apa yang ia memiliki. (2) Ketika ia memiliki ilmu, maka dia akan diuji dengan ilmu tersebut sejauh mana ilmu itu bermanfaat. (3) Ketika seseorang mempunyai harta maka dia akan diuji dengan sejauh mana ia mampu mendistribusikan hartanya kepada orang lain.
Kalimat (1) kalimat utama, sedangkan kalimat (2) dan (3) kalimat-kalimat penjelas.
Kalimat utama : Seseorang diuji dengan apa yang ia miliki. Ide pokoknya adalah ujian untuk seseorang (atau bisa juga ujian untuk seorang manusia).
Contoh 2 Paragraf Deduktif
(1) Menkominfo Tifatul Sembiring mengancam akan menutup layanan Blackberry di Indonesia bila produsennya, Research in Motion (RIM), menolak untuk memblokir konten pornografi. (2) ”Kami sudah memanggil RIM yang sudah bekerja sama dengan enam operator di Indonesia,” kata Tifatul di Jakarta, Selasa. (3) Ia mengatakan, bila ternyata konten pornografi Internet masih dapat diakses melalui Blackberry, pihaknya akan dengan tegas memberikan teguran kepada pabrikan ponsel pintar tersebut. (4) Menteri menyatakan tidak akan segan-segan menutup layanan Blackberry di Indonesia bila RIM menolak memblokir pornografi.
Kalimat (1) kalimat utama, kalimat (2), (3) dan (4) kalimat-kalimat penjelas.
Kalimat utama : Menkominfo Tifatul Sembiring mengancam akan menutup layanan Blackberry di Indonesia bila produsennya, Research in Motion (RIM), menolak untuk memblokir konten pornografi. Ide pokoknya adalah ancaman Menkominfo Tifatul Sembiring.
Paragraf Induktif ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf. Beberapa kalimat penjelas disampaikan terlebih dahulu, kemudian diakhiri dengan kalimat utama.
Contoh 1 Paragraf Induktif
(1) Ini adalah pelajaran yang mesti diketahui setiap orang tua. (2) Doa mereka sungguh ajaib jika itu ditujukan pada anak-anak mereka. (3) Jika orang tua ingin anaknya menjadi saleh dan baik, maka doakanlah mereka karena doa orang tua adalah doa yang mudah diijabahi. (4) Jika orang tua mendoakan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. (5) Jadi, orang tua mesti hati-hati dalam mendoakan anaknya.
Kalimat (1), (2), (3), dan (4) kalimat-kalimat penjelas, sedangkan kalimat (5) kalimat utama.
Kalimat utama: Jadi, orang tua mesti hati-hati dalam mendoakan anaknya. Ide pokoknya adalah hati-hati mendoakan anak.
Contoh 2 Paragraf Induktif
(1) Orang yang sekali melakukan dosa dan ia enggan bertobat, maka ia akan tergoda untuk melakukan yang kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. (2) Lalu dosa-dosanya itu akan semakin bertumpuk-tumpuk sehingga mengalahkan amal baiknya. (3) Ibarat racun dalam tubuh, dosanya akan menggerogoti kesehatannya dari ke hari, sehingga tubuhnya kian lemah dan penuh penyakit. (4) Sesungguhnya dosa besar maupun kecil bila dilakukan secara terus-menerus akan berdampak sangat buruk bagi pelakunya.
Kalimat (1), (2), dan (3) kalimat-kalimat penjelas, sedangkan kalimat (4) kalimat utama.
Kalimat utama : Sesungguhnya dosa besar maupun kecil bila dilakukan secara terus menerus akan berdampak sangat buruk bagi jiwa dan raga pelakunya. Ide pokoknya adalah dampak buruk dosa.
(1) Setiap orang bebas untuk bermimpi. (2) Seperti burung yang terbang di angkasa, setiap orang dapat memilih ingin menjadi begini dan begitu, mau ini dan itu, yang intinya menggambarkan cerita sukses kehidupan. (3) Tak pernah ada larangan untuk bermimpi. (4) Tidak juga pernah ada hukuman bagi orang yang memimpikan sesuatu.
(1) Janganlah Anda merasa menjadi orang yang paling pintar karena di luar sana banyak orang yang jauh lebih pintar dan mungkin Anda belum bisa bertemu dengan mereka. (2) Janganlah merasa Anda menjadi orang yang paling kaya karena di belahan bumi lain, banyak orang yang jauh lebih kaya daripada Anda, hanya Anda belum bertemu dengannya. (3) Jangan hanya baru mempunyai mobil seharga 200 juta, Anda merasa memiliki dunia dan meremehkan orang lain. (4) Janganlah Anda merasa orang yang paling cantik atau tampan, karena di belahan bumi lain ada orang yang jauh lebih tampan dan lebih cantik dibandingkan Anda. (5) Dan ingatlah kecantikan dan ketampanan itu tidak abadi. (6) Jangan hanya karena memiliki wajah yang mulus dan putih Anda merasa orang yang paling sempurna di dunia dan merendahkan orang yang tidak lebih baik daripada Anda. (7) Janganlah Anda merasa menjadi manusia yang paling menderita dengan masalah-masalah Anda, karena di luar sana ada orang yang jauh lebih menderita dan memiliki jutaan masalah daripada Anda. (8) Hanya saja Anda belum bertemu dengan mereka. (9) Jangan pernah merasa menjadi orang yang ”paling” di antara manusia.
(1) Coklat yang murni hadir dengan segala kesederhanaan. Manisnya pun memiliki sedikit rasa pahit. Seakan mengajari, seorang insan yang shalih tetap saja insan, bukan malaikat yang Allah ciptakan tanpa pernah akan berbuat dosa. Insan Allah kembang biakkan dari keturunan Adam. Insan, tetap saja insan yang merupakan tempatnya alpa dan kesalahan. Maka, bukankah lebih baik biarkan saja coklat tetap berwarna coklat?
8. Kalimat tidak padu dalam paragraf di atas adalah … .
(1) Di tengah kerusakan pemahaman yang semakin kuat, ada sebagian wanita yang tetap menjunjung tinggi martabat mereka. (2) Mereka memelihara nilai-nilai kefitrahan sebagai seorang hamba. (3) Pengorbanan dan perjuangan untuk mencari keridaan Allah mereka lakukan tanpa henti. (4) Mereka pahlawan dalam rumah tangga yang melahirkan pejuang-pejuang tangguh. (5) Dari rumah mereka yang penuh berkah lahirlah para pemimpin umat ini yang payah dicari bandingnya. (6) Merekalah para bidadari surga yang masih menjejakkan kakinya di bumi.
(1) Kecanduan pada pornografi bisa merusak otak. (2) Otak pecandu pornografi akan terangsang untuk memproduksi dopamin dan endorfin, yaitu suatu bahan kimia otak yang membuat rasa senang dan merasa lebih baik. (3) Dalam kondisi normal, zat-zat ini akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik. (4) Tetapi dengan pornografi, otak akan mengalami hyper stimulating (rangsangan yang berlebihan), sehingga otak sangat ekstrem, yang kemudian bisa membuat otak mengecil dan rusak.
(1) Air yang diambil dari kelapa muda merupakan cairan isotonik, yang menggantikan air dan mineral yang hilang dari tubuh akibat aktivitas fisik. (2) Atlet dan orang yang terlibat dalam aktivitas fisik yang berat perlu minum air kelapa karena membantu mereka menjaga diri dari dehidrasi. (3) Minuman ini pengganti yang cocok untuk "Gatorade" karena mengandung elektrolit lebih dari minuman energi kebanyakan. (4) Air kelapa muda sangat bermanfaat bagi kesehatan.
(1) Mabes Polri menegaskan Front Pembela Islam (FPI) tak perlu dibubarkan. (2) Penegasan itu disampaikan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di kantornya, Jakarta (Rabu, 15/2). (3) Saud menyampaikan hal itu untuk menanggapi maraknya desakan dari elemen masyarakat yang meminta pebubaran FPI. (4) “FPI merupakan Ormas yang sebenarnya bisa dibina tanpa harus dibubarkan,” kata dia.
(1) Daerah Segitiga Bermuda sangat berbahaya bagi pelayaran dan penerbangan. (2) Kurang lebih seratus pesawat dan kapal laut hilang di daerah ini dan korbannya mencapai lebih dari 1000 orang. (3) Yang paling mengerikan kejadian yang dijuluki “Kuburan Atlantik”. (4) Kejadian ini menimpa ekspedisi skuadron ke-19 Amerika. (5) Pada hari Kamis bulan Januari 1945, lima pesawat tempur jenis TTB30 Finger berangkat dari pangkalannya di Port Louderdidle di wilayah Florida, USA. (6) Kelima pesawat itu bersama awaknya lenyap di balik kabut misterius tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di daerah Segitiga Bermuda.
(1) Di Indonesia plagiator tidak berat hukumannya, baik secara sosial dan hukum. (2) Secara sosial, seorang plagiator tetap dihormati dan dipertimbangkan pemecatannya dalam struktur akademik. (3) Hal ini terlihat pada sanksi seorang profesor yang ketahuan plagiat dalam tulisannya di The Jakarta Post di Bandung, beberapa waktu lalu. (4) Di negara maju seperti Amerika Serikat, ketika seseorang memplagiasi, menyontek, menjiplak, menyalin tanpa menyebutkan sumbernya, atau bahkan menyalin secara keseluruhan dapat berakibat fatal, yaitu pencopotan gelar dan pekerjaannya.
(1) Orang yang membujang hidup untuk dirinya sendiri. (2) Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora. (3) Kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. (4) Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketakwaan mereka dapat diandalkan. (5) Pergolakan yang terjadi secara terus-menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatannya. (6) Orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini.
(1) Ada anggapan bahwa berpacaran sebagai masa perkenalan atau masa penjajakan yang lumrah dan wajar-wajar saja. (2) Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah. (3) Berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh. (4) Semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam. (5) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya". (6) (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). (7) Dalam Islam berpacaran hukumnya haram.
(1) Orang sunda kesulitan melafalkan huruf "F". (2) Kesulitan ini tidak hanya di temukan pada masyarakat awam, tapi juga pada masyarakat yang yang tergolong berpendidikan cukup tinggi. (3) Saya pernah menemukan beberapa diktat kuliah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Bandung, yang disusun oleh dosen asli Sunda, yang banyak memuat kekeliruan penulisan antara "F" dan "P". (4) Sampai ada satu anekdot, orang-orang Sunda suka membela diri dengan mengatakan, "Siapa bilang orang Sunda tidak bisa bilang ’F’, itu teh Pitnah! Pitnah!"
Ide pokok paragraf di atas adalah ….
http://bahasaindonesiayh.blogspot.com/2012/03/ide-pokok-kalimat-utama-dan-kalimat.html
Kalimat utama adalah kalimat yang menjadi inti paragraf, biasanya kalimat ini masih umum dan diperlukan kalimat penjelas.
Kalimat penjelas adalah kalimat yang menjelaskan/memaparkan kalimat utama.
kalimat utama iu membahas tentang suatu pragraf, sedangkan kalimat penjelas:menjelaskan dari apa-apa yang dibahas menggenai kalimat utama tersebut
Sumber Tautan:
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090730094023AAZlXf5
SASTRA : TOKOH DAN PERWATAKAN TOKOH OLEH KI PANDHU ARYA DINATA
Pengertian tokoh utama, antagonis, protagonis dan figuran
Tokoh utama adalah tokoh yang sering muncul atau banyak dikisahkan dalam cerita. Tokoh utama digambarkan sebagai tokoh yang dinamis sehingga sifat mereka sewaktu-waktu bisa berubah.
Tokoh protagonis (pro = setuju, searah, sejalan; gone = sudut; sama tujuan, sama arah, sama jalan) adalah tokoh yang membawakan misi kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai, aman dan sejahtera.
Catatan: Ingat gedung The Pentagon (penta = lima, gon = sudut, gedung yang dibangun berbentuk segi lima).
Tokoh Protagonis (bahasa Yunani: protagonistes) adalah tokoh utama dalam buku, film, permainan video, maupun teater. Dalam literatur, protagonis adalah tokoh yang melawan antagonis. Protagonis sering merupakan seorang pemeran utama, kadang-kadang seorang jagoan atau hal lainnya yang merupakan konflik dengan antagonis.
Tokoh Protagonis biasanya baik dan tidak jahat. Dalam beberapa cerita, tidak semua protagonis menjadi jagoan atau baik. Adakalanya protagonis bertingkah seperti antagonis yang kemudian dikenal sebagai anti-hero (anti-heroine untuk wanita). Protagonis tidak hanya mencakup tokoh utama, tetapi tokoh pendukung yang baik juga dikategorikan protagonis.
Tokoh protagonis membawakan perwatakan yang bertentangan dengan antagonis yang menyampaikan nilai-nilai negatif. Tokoh protagonis merupakan tokoh yang membawakan misi kebenaran dan kebaikan untuk menciptakan situasi kehidupan masyarakat yang damai, aman, dan sejahtera.
Tokoh antagonis (anta, anti = lawan; gone = sudut; berlawanan sudut; berlawanan arah, bertolak belakang) adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Tokoh figuran adalah tokoh tambahan yang perannya tidak penting bagi keutuhan tema.
Sumber Tautan:
http://diansucicahyani.blogspot.com/2013/02/pengertian-tokoh-utama-antagonis.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Protagonis
PIDATO DALAM ACARA PERPISAHAN SISWA KELAS VI SDN PANGKUR 1
SEBAGAI WAKIL SISWA KELAS VI
Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.
Yth. Bapak Kepala SDN Pangkur 1
Yth. Bapak Ketua Komite SDN Pangkur 1
Yth. Bapak dan Ibu Guru sekalian
Adik-adik yang berbahagia
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al-hamdulillaahi rabbi l-‘aalamin. Atas rahmat dah hidayah-Nya kita senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Khususnya, kita sekalian dapat hadir dalam Acara Perpisahan Siswa Kelas VI SDN Pangkur 1 ini.
Tidak lupa kita sampaikan shalawat kepada Junjungan Kita Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa-ssalaam yang mengantarkan kita dari Zaman Jahiliyah menuju Zaman yang Terang Benderang ini.
Pada Acara Perpisahan Siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2014/2015 ini, izinkan, saya mewakili teman-teman Kelas VI SDN Pangkur 1. Kami menyadari bahwa selama 6 tahun berturut-turut menjadi siswa di SDN Pangkur 1 ini berusaha menyerap ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru sekalian. Sungguh ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru sekalian sangat bermanfaat bagi kami baik sekarang maupun waktu yang akan datang. Untuk itu dengan tulus, kami mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kegiatan belajar mengajar yang Bapak dan Ibu Guru berikan kami menjadi amal shalih dan memperoleh limpahan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allaahumma, amien.
Di samping itu, dalam setiap kegiatan belajar mengajar, kadang-kadang atau mungkin sering kami membuat Bapak dan Ibu guru kesal, marah dan kecewa. Kami akui bahwa perilaku kami baik sengaja ataupun tidak sengaja membuat Bapak dan Ibu guru kurang berkenan di hati. Sehubungan dengan hal itu, dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sungguh, kami sangat berharap dengan segala ketulusan hati agar kiranya Bapak dan Ibu sekalian bekenan memberikan maaf pada kami.
Selanjutnya kami tujukan kepada Bapak Ibu, Ayah Bunda kami. Dengan ini kami sampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ayah Bunda. Kami menyadari bahwa betapa Ayah Bunda dengan penuh kasih sayang memberikan perhatian kami demi kemajuan belajar kami sehingga lulus SD. Ayah Bunda telah mendidik dan menjaga kami sehingga kami menjadi siswa yang disiplin dan berprestasi. Di samping itu, kami mohon maaf pada Ayah Bunda kami. Tanpa sepengetahuan Ayah Bunda, mungkin kami membuat keonaran di kelas atau di sekolah. Sehingga ada laporan yang datangnya dari sekolah karena mungkin kami nakal dan sebagainya. Sekali lagi, kami mohon maaf.
Berikutnya, tujukan kepada adik-adik kelas kami yang tercinta. Selama 6 tahun berturut-turut kita bertemu dan sama-sama belajar di sekolah kita yang tercinta ini. Tentu ada rasa suka maupun duka sering kita rasakan. Semua itu tentu saja tidak akan terlupakan begitu saja dan akan menjadi kenangan selamanya. Tirulah apa yang baik dari kami. Tirulah prestasi yang kami raih. Jangan tiru perilaku yang tidak baik. Ada kesalahan dari kami, dengan ini kami minta maaf kepada adik-adik. Selamat tinggal, Adik-adik. Tetap semangat belajar. Raga boleh berpisah, jiwa kita tetap akan selalu bersama. Sama-sama belajar, sama-sama menuntut ilmu untuk meraih cita-cita.
Selanjutnya, kami mohon doa restu kepada Bapak dan Ibu Guru, Ayah dan Bunda, serta adik-adik, sehinggga kami dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kami pun berharap, semoga sekolah kita yang tercinta ini semakin maju dan berjaya di masa mendatang. Allaahumma, amien.
Kiranya saya cukupi sekian saja sambutan kami. Ada kekurangan, saya mohon maaf. Terima kasih atas segala perhatian. Billaahi taufiq wal-hidayah, wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.
Dibuat di : Pangkur
Pada tanggal : 04 Mei 2015
Disampaikan pada tanggal : 16 Juni 2015
Oleh:
HANIF ARITOGAR AFIANTA
MENGOLAH PERIBAHASA MENJADI JOKE SEGAR OLEH KI PANDHU ARYA DINATA
Peribahasa sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala orang tidak bisa berterus terang, maka ia akan mengemukakannya dengan menggunakan peribahasa. Namun peribahasa yang ada selama ini hanya dipergunakan sebatas apa yang ada saja. Artinya dari dulu peribahasa itu berbunyi demikian. Jarang ada orang yang berani mengolahnya. Misalnya: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, yang maksudnya bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang ke tepian. Haruskah berlaku demikian?
Tentu bisa berlaku kebalikannya. Maka peribahasanya akan berbunyi: Berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian, yang maksudnya Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian.
Berikut ini beberapa bentukan peribahasa yang bisa berfungsi untuk menyindir seseorang atau keadaan.
Peribahasa 1
Berenang-renang ke hulu ketemu buaya.
Berakit-rakit ke tepian ketemu macan.
Bersenang-senang dahulu ketemu bahagia.
Bersakit-sakit kemudian meningkatkan iman.
Peribahasa 2
Kerbau punya susu, sapi punya nama. Meskipun kalian memiliki kerbau perahan. Air susunya melimpah. Kalian tak pernah mengatakan sebagai air susu kerbau (AIK). Kalian akan mengalihkan sebagai air susu sapi (AIS).
Kerbau pun tidak pernah merasa tersinggung. Suatu ketika ia sempat berseloroh,”Kok saya jadi kelinci percobaan? Mestinya yang jadi kelinci percobaan itu kambing dulu atau domba dulu!”.
Tapi tukang perah pun berkilah,”Tidak bisa. Kita tidak bisa mencari kambing hitamnya. Masalahnya kambing-kambing yang ada di sekitar sini tidak hitam. Juga kita tidak boleh mengadu domba. Masalahnya domba-domba yang ada di sekitar sini tidak mau diadu.”
Mendengar tanggapan tukang perah, kerbau pun ngeyel (baru kali ini ada kerbau ngeyel),”Masalahnya, bisa ngga kalian mengusahakan kuda liar, biar kalian bisa memproduksi (air) susu kuda liar atau kalau disingkat ASKL?”.
Bukan hanya itu persoalannya, dulu kami sempat gegabah,”Karena nila setitik rusaklah (air) susu sebelanga.”
Kerbau pun menanggapi,”Saya yakin kalian tidak gegabah, masalahnya mungkin ada yang menyusup di kandang ayam, misalnya musang berbulu ayam.”
“Lalu apa hubungannya dengan nila setitik?”
“Siapa tahu musang berbulu ayam itu bukan memburu ayam, tetapi menaruh nila di dalam belanga?’
Peribahasa yang Sesuai Dalam Karangan
Penggunaan peribahasa dalam karangan akan memberi impresi positif kepada pemeriksa bahawa anda mempunyai pengetahuan bahasa yang luas termasuk peribahasa. Oleh itu, saya berharap anda menggunakan sekurang-kurangnya lima peribahasa dalam setiap karangan.
24. Besar-besar istana raja, kecil-kecil pondok sendiri
– betapa senangnya di rumah besar kepunyaan orang lain, tidaklah sama dengan rumah sendiri biarpun kecil.
25. Besar tidak boleh disangka bapa, kecil tidak boleh disangka anak
– kepandaian atau kelebihan terdapat pada semua orang, tidak kira tua atau muda.
26. Biar mati anak, jangan mati adat
– adat resam tidak boleh dilanggar.
27. Biar putih tulang, jangan putih mata
– lebih baik mati daripada menanggung malu.
28. Buat baik berpada-pada, buat jahat jangan sekali
– berbuat baik janganlah berlebih-lebihan tetapi jangan sekali-kali berbuat jahat.
29. Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga
– pergaduhan sesama keluarga tidak berpanjangan, akhirnya berbaik-baik semula.
30. Di luar bagai madu, di dalam bagai hempedu
– tipu muslihat biasanya dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut dan manis.
31. Di mana ada kemahuan, di situ ada jalan
– jika mempunyai cita-cita seseorang akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya.
32. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana tanah dipijak, di situ jalan dilalui. Di mana jalan dilalui, di situ banyak lalu lalang. Di mana ada lalu lalang, di situ ada keramaian. Di mana ada keramaian, di situ ada yang datang ada yang pergi. Di mana ada yang datang dan ada yang pergi, di situ ada tegur sapa. Di mana ada tegur sapa, di situ ada tanya jawab. Di mana ada tanya jawab, di situ masalah diselesaikan. Di mana masalah diselesaikan, di situ satu sengketa teratasi. Di mana satu sengketa teratasi, di situ muncul masalah lagi. Di mana ada masalah lagi, di situ banyak dibicarakan. Di mana banyak dibicarakan, di situ ada sekumpulan orang punya kepentingan. Di mana ada sekumpulan orang punya kepentingan, di situ masing-masing berebut pengaruh. Di mana masing-masing berebut pengaruh, di situ ada pemaksaan kehendak. Di mana ada pemaksaan kehendak, di situ masing-masing tidak mau mengalah. Di mana masing-masing tidak mau mengalah, di situ masalah tidak pernah diselesaikan. Di mana masalah tidak pernah diselesaikan, di situ biasanya berakhir tanpa penyelesaian. Di mana? Di mana-mana!
– kita hendaklah mematuhi peraturan tempat yang kita diami
33. Diam-diam ubi berisi, diam-diam penggali berkarat
– diam orang yang berilmu itu berfikir sementara diam orang yang bodoh itu sia-sia sahaja.
34. Didengar ada, dipakai tidak
– nasihat yang sia-sia.
35. Enggang sama enggang, pipit-sama pipit
– bergaul dengan orang yang sama taraf.
36. Gajah mati meninggalkan tulang, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama
– jasa dan nama baik seseorang yang mati akan dikenang juga.
37. Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah
– pergaduhan antara dua orang besar atau pemerintah, rakyat yang mendapat kesusahan.
38. Genggam bara api biar sampai jadi arang
– membuat sesuatu pekerjaan yang susah, hendaklah sabar sehingga mencapai kejayaan.
39. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari
– tingkah laku guru akan menjadi ikutan murid.
40. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga
– budi baik seseorang tidak akan dilupakan walaupun dia telah mati.
41. Harapkan pagar, pagar makan padi
– seseorang yang dipercayai untuk menjaga sesuatu, dia pula yang mengkhianati kita.
42. Hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah
– pembahagian yang sama rata.
43. Hati hendak semua jadi
– jika ada kemahuan, semua kerja akan jadi.
44. Hendak seribu daya, tak hendak seribu dalih
– jika berkehendakkan sesuatu akan berusaha untuk mendapatkannya, tetapi jika tidak mahu membuat sesuatu pekerjaan, berbagai-bagai alasan boleh diberikan.
45. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah
– semasa hidup kita mestilah mengikuti adat resam, dan apabila sudah mati terserah pada hukum Tuhan.
46. Hidup sandar-menyandar umpama aur dengan tebing
– tolong-menolong dalam kehidupan
Senin, 08 Juni 2015
SUDUT BAHASA : PESOHOR ATAU PENYOHOR (?)
Oleh Ki Pandhu Arya Dinata
pesuruh orang yang disuruh
penyuruh orang yang menyuruh
pesohor orang yang dibuat tersohor
penyohor orang yang membuat orang atau sesuatu tersohor
perusuh orang yang berbuat rusuh
perusuh orang yang dibuat menjadi rusuh
perajin orang yang berbuat rajin; orang yang bekerja dengan rajin
pelari orang yang suka berlari
pelari orang yang melarikan diri atau melarikan (orang atau sesuatu)
pesakit
penyakit
peserta orang yang disertakan, orang yang (ikut) serta
penyerta
pesepak
penyepak
petinju orang yang hobinya/pekerjaannya bertinju
peninju orang yang hobinya/kesukaannya meninju
pegulat orang yang hobinya/pekerjaannya bergulat
penggulat orang yang hobinya/kesukaannya menggulat
peubah
pengubah
pejabat
penjabat
pejalan
penjalan
petugas
penugas
petaruh
penaruh
petarung
penarung
petangkal
penangkal alat atau orang yang bertugas untuk menangkal
petunjuk alat yang dipergunakan untuk menunjuk(kan) sesuatu
penunjuk alat atau orang yang bertugas menunjuk
sohor berasal dari syahur/asyhur(?) masyhur
tersohor termasyhur
pesohor orang yang disohorkan/dimasyhurkan
penyohor orang yang hobinya/tugasnya/pekerjaannya menyohorkan sesuatu/orang
Langganan:
Postingan (Atom)