Sabtu, 27 Juni 2015
SUDUT BAHASA: RIBETNYA MEMBUAT AKRONIM
Oleh Ki Pandhu Arya Dinata
Membicarakan akronim tidak ada habis-habisnya. Bahkan tidak ada teori yang begitu mapan, meyakinkan, dan logis untuk menyusun akronim. Definisi akronim mungkin yang tepat tetapi vulgar ialah gabungan potongan beberapa kata yang asal bunyi. Itu saja. Lebih-lebih kita masuk di era orasi (orde reformasi – nah sudah akronim kan?).
Coba bayangkan, kalau tidak bersedia membayangkan, biarlah Ki Pandhu sendiri yang membayangkan. Tatkala sejumlah guru (biasanya guru bahasa Indonesia) yang ribet berhadapan dengan salah satu perangkat yang harus diselesaikan , yakni Program Semester.
Dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) bahkan Pelatihan Instruktur Nasional sekalipun ramai dibicarakan akronim dari Program Semester. Ada yang menggunakan Promes. Tetapi ada juga yang menggunakan Prosem. Kedua-duanya kuat dipertahankan oleh dua kubu yang terbiasa menggunakan akronim tersebut masing-masing.
Cobalah, kenapa tidak ada yang nyeletuk atau mengusulkan Proter, Gramsem, Grammes, atau Gramter(!?).
Belum lagi Program Tahunan. Yang umum digunakan ialah Prota. Tapi yang kukuh menggunakan Promes, tidak pernah kukuh menggunakan akronim Prohun. Makin ruwet apabila ada yang mengemukakan (tentu dengan cara rileks atau humor saja): Pronan, Gramta, Gramhun, Gramnan. Kenapa?
Belum lagi kata “Nasional” yang dipotong jadi “Nas” atau “Na”. Ujian Nasional (Unas atau Una)? Proyek Nasional (Pronas atau Prona)? Mobil Nasional (Mobnas atau Mobna)? Musyawarah Nasional (Munas atau Muna)?
Kata “Musyawarah” pun dikotomi dipotong jadi “Musy” atau “Mu”. Musyawarah Nasional (Munas atau Musynas)? Musyawarah Wilayah (Muwil atau Musywil)? Musyawarah Daerah (Muda atau Musyda)? Musyawarah Cabang (Mucab atau Musycab)? Musyawarah Ranting (Muran atau Musyran)?
Lagi: Musyawarah Desa (Musydes atau Mudes)? Musyawarah Kerja (Musyker atau Muker)? Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah (Musyrenbangda atau Musrenbangda atau Murenbangda)?
Dari sejumlah data tersebut di atas, seperti yang dikemukakan oleh Ki Pandhu memang selayaknya akronim itu didefinisikan sebagai gabungan potongan beberapa kata yang asal bunyi. Menurut ‘njenengan’, bagaimana akronim berikut ini? Atau ada yang ‘nyusul’ membuat akronim yang aneh-aneh?
Banaspati – Barisan Nasional Patriot Indonesia
Ikan asin – intelektual kagetan asal sindir.
Ikan piranha – intelektual kagetan pemimpi dan rajin mengharap.
Ikan salmon – intelektual kagetan asal ngomong.
Ikan teri – intelektual kagetan teriak sana teriak sini.
Ikan tongkol – intelektual kagetan tong kosong suka mendongkol.
Serenan – Pangkur – Ngawi, 09 Januari 2012 disunting pada Ahad Pon, 28 Juni 2015 M/11 Ramadhan 1436 H pukul 11.58 WIB.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar